Teori Psychoanalitic menurut Erikson

Assalamualaikum.wr.wb

Teman-teman, setelah membahas teori psychoanalitic menurut Sigmund Freud, sekarang saya membahas teori lain dari psychoanalitic yaitu dari Erik Erikson yang merupakan kembangan dari teori Sigmund Freud.

BIOGRAFI

Erik Erikson lahir di Franfrurt Jerman, pada tanggal 15 Juni 1902. Dia adalah ahli analisa jiwa dari Amerika, yang membuat kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang psikologi pada pengembangan anak. Ayahnya meningga ldunia sebelum ia lahir. Saat remaja, ibunya menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger. Waktu kecil Erikson tidak menyenangi sekolah yang formal. Ia pun tidak sempat menyelesaikan program diploma. Perjalanan Erikson ke beberapa negara dan perjumpaannya dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu Anna Freud,menjadikannya seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan. Ia mulai mempelajari ilmu tersebut di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Terakhir pada tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas Harvard.Setelah menghabiskan waktu dalam perjalanan panjangnya di Eropa Pada tahun1933 ia kemudian berpindah ke USA dan ditawari untuk mengajar di Harvad MedicalSchool. Selain itu ia memiliki pratek mandiri tentang psiko analisis anak. Terakhir, iamenjadi pengajar pada Universitas California di Berkeley, Yale, San Francisco.
ERIKSON
Teori Psychoanalitic menurut Erikson
Teori Erikson ini mendasarkan pada pengaruh sosial budaya di lingkungan individu. Teori ini sangat dipengaruhi oleh teori psikoanalisis Freud, namun Erikson mengembangan teori tersebut dan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Kelebihan dari teori Erikson adalah bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia, Erikson memasukkan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan tahapan manusia, tidak hanya sekedar faktor libidinal sexual.
Berikut adalah prinsip-prinsip berdasarkan teori Erikson :
  1. Setiap individu mempunyai keperluan asas yang sama
  2. Perkembangan individu bergantung kepada tindak balas individu terhadap keperluan-keperluan asasnya
  3. Perkembangan individu mengikuti tahap-tahap tertentu
  4. Setiap tahap memiliki konflik dan konflik ini harus diatasi supaya individu dapat menjalankannya dengan baik ditahap selanjutnya.
  5. Kegagalan mengatasi konflik pada suatu tahap akan mempengaruhi perkembangan tahap yang selanjutnya.

social-dev1

Erikson adalah perintis perspektif tentang kehidupan (life span perspective). Jika Freud menekankan bahwa pengalaman
di awal masa kanak-kanak membentuk kepribadian secara permanen,erikson malah menyatakan bahwa perkembangan ego bersifat seumur hidup. Teori perkembangan psikososial Erikson mencakup delapan tahapan sepanjang
rentang kehidupan, yaitu :
1
  1. Trust vs Mistrust (lahir – 1,5tahun) : Pada saat bayi, kita mengembangkan perasaan bahwa dunia merupakan tempat yang baik dan aman. -> Harapan22
  2. Autonomy vs Shame and Doubt (2-3tahun) : Anak mengembangkan keseimbangan independen dan kepuasan diri terhadap rasa malu dan keraguan. -> Kehendak/mandiri2
  3. Initiative vs Guilt (3-6tahun) : Anak mengembangkan inisiatif ketika mencoba melakukan aktivitas baru dan tidak terlalu terbebani oleh rasa bersalah. -> Tujuan/inisiatif4
  4. Industry vs Inferiority (6-12tahun) : Anak harus memulai belajar mengenai keterampilan budaya/menghadapi perasaan yang tidak kompeten. -> Keterampilan/pengalaman5
  5. Identity vs Role Confusion (12-20tahun) : Remaja mulai menilai & memahami diri sendiri. “Who I am?”  serta merasakan kekacauan peran. -> Loyalitas/ dapat dipercaya6
  6. Intimacy vs Isolation (20-35tahun) : Individu mncoba membuat komitmen dengan orang lain. Kemampuan mengembangkan hubungan dengan sejenis/lawan jenis. Salah satu aspek keintiman adalah solidaritas. Jika keintiman gagal dicapai,individu cenderung akan menutup diri. -> Cinta7
  7. Productivity vs Stagnation (35-65tahun) : Perhatian orang dewasa yang sudah matang adalah membangun dan membimbing generasi selanjutnya. Penting menumbuhkan upaya-upaya kreatif dan produktif. Bila generativitas gagal,terjadi stagnasi. -> Rasa perduli8
  8. Ego Integrity vs Despair (>65tahun) : Individu yang lebih tua mendapatkan penerimaan terhadap hidup dan membuatnya dapat menerima kematian atau sebaliknya, putus asa atas ketidakmampuannya menghidupkan kembali hidupnya. -> Kebijaksanaan.

Semoga bermanfaat.

Walaikumsalam.wr.wb

Referensi :
 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s